Inilah Dakwah Kami

oleh: Abu Muhammad Abdul Mu’thi Al Maidani

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasul dan nabi yang terakhir untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya, dari kekafiran kepada iman, dari kesyirikan kepada tauhid, dari neraka kepada surga. Beliau telah menyampaikan risalah yang mulia ini secara sempurna kepada umatnya, yakni para Sahabatnya radhiyallahu ‘anhum pada waktu itu. Para Sahabat radhiyallahu ‘anhum mengorbankan jiwa dan harta mereka untuk mendukung dan mengamalkan seluruh ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dengan demikian, mereka pun layak untuk menggapai kemuliaan Islam dan menjadi generasi yang terbaik dari umat ini. Allah berfirman:

“Kalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia. Kalian menyuruh kepada yang ma’ruf, melarang dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah…” (Ali Imran: 110)

Sesungguhnya Dakwah Salafiyyah merupakan seruan yang mengajak seluruh manusia kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan pemahaman para Salaf yang baik dalam segala aspek, baik dari segi aqidah, manhaj, ibadah, mu’amalah, akhlak, adab, dan lain sebagainya. Alasan inilah, yang membuat setiap muslim tidak perlu ragu terhadap kebenaran Dakwah yang agung ini. Dakwah ini berasaskan Al-Qur’an sebagai kalamullah yang tidak diragukan lagi kebenarannya, As-Sunnah yang diambil dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang tidak pernah berbicara dengan hawa nafsu melainkan dengan wahyu dari Allah, serta pemahamam para Sahabat yang kesepakatan mereka adalah ma’shum (terpelihara dari dosa dan kesalahan).
Oleh karena itu, barangsiapa yang meragukan kebenaran Dakwah Salafiyyah, berarti dia meragukan kebenaran Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta menganggap para Sahabat yang mulia telah bersepakat di atas kebatilan. Alangkah celaka orang-orang yang meragukan kebenaran Dakwah Salafiyyah ini!!!
Dakwah Salafiyyah akan selalu disuarakan oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Al-Firqatun-Najiyah, atau At-Thaifah Al-Manshurah pada setiap masa dan dimana pun mereka berada. Dengan keberlangsungan dakwah ini, Allah menegakkan hujjah-Nya atas segenap manusia sampai hari Kiamat. Dakwah Salafiyyah ini tentunya sangat berbeda dengan berbagai Dakwah sempalan yang mengajak kepada golongan masing-masing. Dakwah Salafiyyah tidak pernah mengajak kepada golongan, kelompok, organisasi tertentu, atau tokoh agama yang jelas tidak ma’shum. Sementara kita bisa menyaksikan Dakwah-Dakwah yang lain secara beramai-ramai mengajak umat untuk kembali kepada Al¬-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman pendiri atau tokoh masing-masing. Misalnya:
– Rafidhah mengajak kembali kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman Abdullah bin Saba’ Al-Yahudy .
– Jahmiyyah mengajak kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman Ja’ad bin Dirham dan Jahm bin Sofwan.
– Asy’ariyyah mengajak kembali kepada Al-Qur`an dan AS-Sunnah sesuai dengan pemahaman Abul Hasan Al-Asy’ary sebelum taubatnya kepada manhaj Salaf .
– Maturidiyyah mengajak kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman Abul Manshur Al-Maturidy.
– Mu’tazilah (kaum Rasionalis) mengajak kepada keduanya sesuai dengan pemahaman Washil bin Atha’.
– Jama’ah Tabligh mengajak kepada keduanya sesuai dengan pemahaman Muhammad Ilyas.
– Ikhwanul Muslimin mengajak kepada keduanya sesuai dengan pemahaman Hasan Al-Banna, Sayyid Qutb, dan tokoh-tokoh lain yang termasuk dari pentolan mereka.
– Hizbut Tahrir mengajak kepada keduanya sesuai dengan pemahaman Taqiyuddin An-Nabhani.
– Sururiyyah mengajak kepada keduanya sesuai dengan pemahaman Muhammad Surur bin Nayef Zainal Abidin.
Dan demikianlah segenap Dakwah sempalan yang lainnya.

Adapun Dakwah Salafiyyah mengajak kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman para Sahabat radhiallahu ‘anhum sebagai generasi terbaik umat ini yang kesepakatan mereka adalah ma’shum. Pemahaman mereka ini telah diwarisi oleh generasi yang terbaik setelah mereka yakni para Tabi’in dan Atba’ut tabi’in.
Dari sisi lain, perbedaan antara Dakwah Salafiyyah dengan dakwah yang bid’ah yaitu Dakwah ini menganjurkan pengikutnya untuk mengambil ilmu dari para ulama salaf yang terpercaya pada setiap masa, baik dengan belajar langsung atau melalui buku-buku mereka. Adapun dakwah bid’ah yang dapat dipastikan kebatilannya, menjauhkan para pengikutnya dari para ulama Salaf. Imam Al-Auza’i rahimahumullah berkata:
عَلَيْكَ بِآثَارِ مَنْ سَلَفَ، وَإِنْ رَفَضَكَ النَّاسُ، وَإِيَّاكَ وَآرَاءَ الرِّجَالِ، وَإِنْ زَخْرَفُوا لَكَ بِالْقَوْلِ
“Ikutilah atsar (jejak) para Salaf walaupun manusia menentangmu, dan jauhilah logika-logika para tokoh, walaupun mereka menghiasinya untukmu dengan perkataan (indah yang menipu).” [SHAHIH, HR. Al-Khatib, Al-Ajurri dan Ibnu Abdil Barr]
Beliau juga berkata:
فَاصْبِرْ نَفْسَكَ عَلَى السُّنَّةِ، وَقِفْ حَيْثُ وَقَفَ الْقَوْمُ، وَقُلْ بِمَا قَالُوا، وَكُفَّ عَمَّا كَفُّوا عَنْهُ، وَاسْلُكْ سَبِيْلَ سَلَفِكَ الصَّالِحِ، فَإِنَّهُ يَسَعُكَ مَا وَسِعَهُمْ
“Sabarkan dirimu diatas As-Sunnah, bersikaplah sebagaimana para Salaf bersikap, berucaplah sesuai dengan apa yang mereka ucapkan, tahanlah dirimu dari perkara yang mereka menahan diri, dan melintaslah di atas jalan salafmu yang baik, karena sesungguhnya akan terasa lapang bagimu apa yang terasa lapang bagi mereka”. [HR. Al-Laalika`i, Baihaqi dan Al-Aajurri dengan sanad yang SHAHIH]
Imam Abu ‘Aliyah rahimahullah berkata: “Ikutilah perkara agama yang terdahulu (dimasa Salaf). Mereka berada di atasnya sebelum umat ini berpecah belah (menjadi bergolong-golongan).”

Prinsip-prinsip Dakwah Salafiyyah
Dakwah Salafiyyah adalah seruan kepada jalan Allah agar manusia mentauhidkan-Nya. Dakwah kepada jalan Allah merupakan dakwah para rasul ‘alaihimus salam. Allah berfirman:

“Dan tidaklah kami mengutus seorang rasul pun sebelummu (wahai Nabi) melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Aku, maka kepada-Kulah hendaknya kalian beribadah.” (Al-Anbiya’: 25)

Dakwah Salafiyyah memiliki beberapa prinsip, sesuai dengan manhaj yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dimana dakwah-dakwah bid’ah yang berkiprah saat ini mesti menyelisihi salah satu atau lebih dari beberapa prinsip tersebut. Adapun prinsip-prinsip yang kami maksud adalah sebagai berikut:
1. Dakwah Salafiyyah berdiri diatas ilmu yang haq.
Seorang yang menyeru kepada Dakwah Salafiyyah harus berilmu sebelum berdakwah. Karena seorang yang bodoh akan banyak membuat kerusakan dari arah yang dia mengiranya sebagai kebaikan. Allah berfirman:

“Katakanlah (wahai Nabi) inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku, berdakwah kepada jalan Allah diatas bashirah, maha suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang berbuat syirik.” (Yusuf: 108)

Bashirah dalam ayat ini bermakna ilmu , keyakinan, dan keterangan yang nyata, baik secara syar’i maupun ‘aqly.

2. Dakwah Salafiyyah berdiri diatas sikap beramal dengan ilmu.
Seorang yang menyeru kepada Dakwah Salafiyyah semestinya menjadi teladan yang baik bagi umat ini, dimana perbuatannya membenarkan perkataannya. Sehingga ahli bid’ah tidak memperoleh kesempatan untuk menyerang dan menjatuhkannya. Allah berfirman:

“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang-orang yang menyeru kepada Allah dan beramal shalih, lalu dia berkata, sesungguhnya aku termasuk dari orang-orang yang berserah diri”. (Al-Fushshilat: 33)

3. Dakwah Salafiyyah berdiri diatas keikhlasan dalam berilmu, beramal, dan
berdakwah.
Seorang yang menyeru kepada Dakwah Salafiyyah seyogyanya memiliki niat yang ikhlas kepada Allah dalam tiga perkara yang tadi disebutkan. Keikhlasan yang tidak dicampuri oleh riya, keinginan mencari popularitas, ambisi kepemimpinan, atau keserakahan terhadap berbagai kesenangan dunia. Sebab itulah, dakwahnya harus benar-benar untuk Allah dan dalam rangka mencari ganjaran di sisi-Nya, bukan untuk memenuhi godaan hawa nafsu.
Allah berfirman tentang kisah Nabi Shaleh ketika berdakwah kepada kaumnya:

“Dan aku sekali-kali tidak meminta upah kepada kalian atas ajakan itu, upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam. “(Asy-Syu’ara: 145)

4. Dakwah Salafiyyah berdiri diatas perbaikan di berbagai sektor yang fundamental dalam Islam.
Perbaikan itu dimulai dan diutamakan dalam bidang aqidah dan tauhid, yang diaplikasikan dalam bentuk memurnikan seluruh ibadah hanya untuk Allah Azza wa Jalla dan melarang dari segala perbuatan syirik. Setelah itu, mengajak untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban yang Allah perintahkan dan meninggalkan perkara-perkara yang Allah haramkan. Inilah metode Dakwah yang diemban oleh para rasul ‘Alaihimus salam. Allah berfirman:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus seorang rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah saja dan jauhilah thaghut.” (An-Nahl: 36)

5. Dakwah Salafiyyah berdiri diatas kesabaran terhadap segala cobaan, rintangan,
dan gangguan yang ditemui di jalan Dakwah yang agung ini.
Seorang yang menyeru kepada Dakwah Salafiyyah mesti bersabar terhadap segala cobaan, rintangan, dan gangguan yang ditemui dalam berdakwah. Tentunya tidak semua orang akan senang ketika Dakwah yang benar ini dilancarkan. Orang-orang yang hatinya berpenyakit akan selalu menghadang dakwah yang benar ini. Mereka akan berusaha untuk memadamkan cahaya Allah. Namun Allah tetap akan menyempurnakan cahayanya walaupun orang-orang yang musyrik dan kafir membencinya. Allah berfirman mengenai para Rasul yang menanggung beraneka ragam cobaan, rintangan, dan gangguan dalam berdakwah:

“Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan kami terhadap mereka …” (Al-An’am: 34)

6. Dakwah Salafiyyah berdiri diatas akhlaq karimah yang terpuji dan adab sopan santun yang mulia.
Seorang yang menyeru kepada Dakwah Salafiyyah hendaknya menghias diri dengan akhlak karimah yang terpuji dan adab sopan santun yang mulia. sudah barang tentu bahwa semua itu harus diukur dan ditimbang dengan penilain Al-Quran dan Sunnah dengan pemahaman Salaf, bukan dengan penilain hawa nafsu, perasaan, adat istiadat, tradisi nenek moyang, organisasi, kelompok, aliran, tokoh tertentu, dan lain sebagainya. Demikian pula, berdakwah dengan hikmah yakni sesuai dengan cara yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Allah telah menjelaskan metode Dakwah yang penuh dengan hikmah, sebagaimana dalam Firman-Nya :

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, serta bantahlah mereka dengan cara yang baik pula.” (An-Nahl: 125)

7. Dakwah Salafiyyah berdiri diatas kesungguhan yang mapan dan tekad yang kuat tanpa mengenal putus asa dalam menyuarakan kebenaran.
Seorang yang menyeru kepada Dakwah Salafiyyah tidak boleh gampang berputus asa dalam menunggu pertolongan Allah untuk menunjuki umat kepada kebenaran. Walaupun dia harus menunggu dalam jangka waktu yang lama. Sebab, Dakwah ini mengemban amanah yang besar dan tidak mudah untuk diwujudkan. Bahkan penuh dengan resiko di dalam merealisasikannya. Oleh karena itu, seorang da’I salafi dituntut kesabarannya dalam menghadapi berbagai macam onak dan duri yang menghadangnya. Banyak contoh dari kesabaran para Rasul dalam menyampaikan Dakwah tauhid kepada kaumnya. Dakwah yang tidak dilandasi oleh kesabaran, akan mendulang kegagalan pada awal urusannya.
Demikiamlah sekelumit tentang prinsip-prinsip Dakwah Salafiyyah yang agung dan mulia ini. Tentunya, masih banyak prinsip Dakwah Salafiyyah yang belum kami singgung dalam tulisan ini. Semoga beberapa prinsip yang telah disebutkan diatas bisa menjadi penyegaran dan perbaikan bagi keislaman kita pada masa mendatang.

Musuh-musuh Dakwah Salafiyyah
Musuh-musuh Dakwah Salafiyyah, Ahlus Sunnah wal Jama’ah, adalah seluruh ahli bid’ah yang mengajak umat untuk menyeleweng dari Al-Quran dan As-¬Sunnah dengan pemahaman Salaf. Sebagaimana yang telah kami utarakan sebelumnya, bahwa setiap Dakwah yang bid’ah mesti akan menyelisihi salah satu prinsip Dakwah Salafiyyah atau bahkan lebih.
Sebagai contoh, kita mendapati kelompok Ikhwanul Muslimin menyepelekan perkara aqidah dan tauhid. Mereka sibuk mencurahkan seluruh perhatian dan kemampuan mereka untuk menggeluti bidang politik dengan alasan menegakkan pemerintahan Islam. Bahkan mereka menjadikan tujuan dakwah mereka yang paling terpenting ialah menegakkan pemerintahan Islam. Menurut mereka, dengan demikian hukum-hukum had dalam syariat Islam bisa diterapkan ditengah-tengah masyarakat muslimin. Misalnya, orang yang berzina dirajam, orang yang mencuri dipotong tangannya, dan lain-lain .
Padahal Dakwah para rasul dimulai dan diakhiri dengan seruan kepada ajaran tauhid. Mereka ‘alaihimus shalaatu wassalam menjadikan tujuan Dakwah yang paling asasi dan terpenting adalah tauhid kepada Allah. Sehingga dengan keberadaan Dakwah tauhid, diharapkan manusia bisa kembali kepada fitrah penciptaan mereka yaitu beribadah kepada Allah semata. Allah berfirman:

“Dan tidaklah kuciptakan manusia dan jin kecuali untuk beribadah kepadaKu.” (Adz-¬Dzariyat: 56)

Bagaimana mungkin mereka ingin menegakkan hukum Allah atas orang-orang yang berzina, mencuri, dan lain sebagainya, sementara mereka membiarkan hak Allah dilanggar dengan berbagai bentuk kekafiran dan kesyirikan. Ini jelas sebuah perkara yang pantas untuk dinyatakan: jauh panggang dari api.
Segala perbuatan maksiat berupa zina, mencuri, dan yang sejenisnya merupakan pelanggaran terhadap hak makhluq yang dicipta, sedangkan kekafiran dan kesyirikan merupakan pelanggaran terhadap hak Allah yang Maha mencipta. padahal qa’idah syar’iyyah menyatakan:
(حَقُّ الْخَالِقِ مُقَدَّمٌ عَلَى حُقُوْقِ الْمَخْلُوْقِ)
“Hak Dzat yang Maha pencipta lebih diutamakan diatas hak-hak para makhluk yang dicipta.”
Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Dosa-dosa yang disertai dengan tauhid yang benar masih lebih baik daripada tanpa dosa tetapi disertai dengan tauhid yang rusak” .
Ambisi mereka yang demikian itu, membuat mereka terjungkal dalam berbagai penyimpangan Dakwah. Mereka membuang manhaj para rasul ‘alaihimus shalaatu wassalam dan mengikuti hawa nafsu para pemimpin mereka. Yang lebih tragis lagi, ternyata para pemimpin mereka bukanlah orang-orang yang istiqamah di atas manhaj yang haq. Seperti Hasan Al-Banna, dia seorang Sufi berpaham Bathiniyah . Demikian pula Hasan At-Turabi, Muhammad Al-Ghazali, atau Yusuf Al-Qardhawi adalah Aqlaniyyun, yakni orang-orang yang lebih mendahulukan akal daripada nash-nash syari’.
Sekarang marilah kita menelusuri kelompok sempalan yang lain. Kelompok ini biasa disebut dengan Jama’ah Tabligh . Jama’ah Tabligh adalah kelompok yang beraliran Shufi. Sehingga tak ada perbedaan yang mendasar antara kelompok ini dan tarekat-tarekat Shufiyyah yang lainnya dalam perkara ibadah. Mereka lebih mementingkan ritual-ritual ibadah tanpa mempedulikan masalah aqidah. Sehingga ibadah mereka pun banyak bercampur dengan syirik dan bid’ah. Seperti berdoa kepada para Wali, Nabi, dan orang yang shalih. Demikian pula thawaf atau shalat di kuburan mereka, dan berbagai ritual lainnya. Padahal berdoa, thawaf, atau shalat merupakan perkara-perkara ibadah yang harus diserahkan hanya kepada Allah Ta’ala semata.
Di samping itu, kelompok ini juga memiliki keyakinan-keyakinan batil yang merasuki aqidah mereka melalui khurafat-khurafat yang tersebar di kalangan mereka. Bahkan di kalangan tarekat Shufiyyah ada orang-orang yang mengingkari syariat yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Mereka mengatakan bahwa syari’at yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam diperuntukkan bagi orang-orang awam. Mereka mengistilahkan syariat in dengan sebutan: Ilmu Zhahir.
Dalam keyakinan mereka, barangsiapa yang sudah mencapai tingkatan “hakikat” atau “ma’rifat” tidak lagi terikat dengan syari’at yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Lucunya, mereka memiliki syari’at tersendiri yang dibangun berdasarkan wangsit-wangsit yang dibisikkan syetan kepada mereka. Mereka menamakannya dengan ilmu batin atau al-kasysyaf . Keyakianan ini sangat jelas merupakan kekafiran karena mengingkari syari’at yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Kita diwajibkan oleh Allah untuk tunduk dan taat kepada ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana yang tersurat di dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang cukup banyak.
Semua ini terjadi karena Dakwah kelompok-kelompok bid’ah itu tidak didasari oleh ilmu, tetapi dilandasi oleh hawa nafsu dan perasaan belaka. Hal ini terbukti bila kita melihat kepada keyakinan dan amal mereka yang marak dengan syirik dan bid’ah. Bahkan mereka juga menganjurkan para pengikut mereka untuk keluar berdakwah walaupun tidak berilmu tentang agama . Karena yang menjadi target mereka dalam berdakwah adalah mengumpulkan pengikut sebanyak-banyaknya. Tetapi pernahkah mereka mengajarkan ilmu yang benar, bersumber dari Al-¬Qur’an dan As-sunnah sesuai dengan pemahaman Salaf?
Sesungguhnya banyak sekali kelompok-kelompok sesat yang berdakwah dengan beraneka ragam kebid’ahan dan menyelisihi salah satu prinsip Dakwah Salafiyyah atau lebih. Namun kita cukupkan dengan sebagiannya saja agar hal ini menjadi isyarat yang kuat bagi yang selainnya. Disini sekali lagi kami tegaskan bahwa Semua Dakwah bid’ah merupakan musuh-musuh bagi Dakwah Salafiyyah. Kita tidak perlu terkejut bila kebenaran ditegakkan maka kebatilan akan selalu menentangnya. Allah berfirman:

“Dan demikianlah kami jadikan musuh-musuh bagi tiap-tiap Nabi dari kalangan syetan-syetan manusia dan jin, yang sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain, perkataan yang indah-indah untuk menipu.” (Al-An’am: 112)

Akhirnya, kita memohon kepada Allah semoga menetapkan hati-hati kita di atas al-haq, dan membimbing kita agar selalu mengikuti manhaj shahih yang disuarakan oleh Dakwah Salafiyyah. Semoga Allah memberi manfaat kepada seluruh orang yang membaca tulisan ini. Ya Allah, wafatkanlah kami di atas Islam dan Sunnah. Amin ya rabbal `alamin.
***

(http://alhujjah.wordpress.com/dakwah/)

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: