‎”Ketika Kebenaran Didustakan dan Kedustaan dibenarkan”

Oleh Abu Khaulah Zainal Abidin

Di antara sebab murkanya ALLAH kepada bangsa Yahudi, adalah karena mereka mendustakan nabi-nabi yang diutus. Padahal tidaklah ALLAH memilih utusan-utusan-Nya, kecuali dari orang-orang terbaik di kalangan dan pada zamannya. Tentu saja, karena ALLAH SUBAHANAHU WA TA’ALA mengutus mereka dalam rangka mengajak manusia beribadah hanya kepada ALLAH dan meninggalkan kesyirikan. Mereka dipilih untuk . diterima, dicintai, diutamakan, serta diteladani. Mereka diutus untuk didengar, dipercaya dibenarkan, kemudian dita’ati dan diikuti.

Adapun Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, sebagai rasul akhir zaman dan penutup para nabi, tentu saja memiliki keistimewaan tersendiri. Beliau diutus untuk segenap manusia yang ALLAH SUBAHANAHU WA TA’ALA tidak mengutus lagi seseorang setelah dia, baik nabi, apalagi rasul. Yang tak ada alasan bagi orang Yahudi maupun Nashara untuk bertahan di dalam agama mereka, yang tidak ada balasan bagi mereka yang menolak ajakan Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam kecuali dijebloskan ke dalam neraka.

عن أبي هريرة، عن رسول الله صلى الله عليه وسلم؛ أنه قال:
“والذي نفسي محمد بيده! لا يسمع بي أحد من هذه الأمة يهودي ولا نصراني،

ثم يموت ولم يؤمن بالذي أرسلت به، إلا كان من أصحاب النار”.

Demi Yang jiwa Muhammad di tangannya! Tidak seorang pun yang mendengar tentangku -apakah itu Yahudi atau Nasrani- kemudian dia mati dalam keadaan belum beriman kepada apa yang aku diutus dengannya, kecuali dia menjadi penduduk neraka.” (HR:Muslim)

Dan semua kebaikan dari seluruh utusan-ALLAH itu terkumpul pada satu pribadi yang diutus sebagai penyempurna akhlaq manusia -sejak ALLAH SUBAHANAHU WA TA’ALA sendiri menyatakan telah disempurnakannya agama ini, dilengkapkannya ni’mat-Nya-, dan diridhoi-Nya Islam sebagai agama. Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam adalah pribadi terbaik dari keturunan yang terbaik, sebagaimana yang ia sampaikan:

أن واثلة بن الأسقع يقول: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول:

“إن الله اصطفى كنانة من ولد إسماعيل. واصطفى قريشا من كنانة.

واصطفى من قريش بني هاشم. واصطفاني من بني هاشم” (رواه مسلم)

Sesungguhnya dari keturunan Isma’il ALLAH telah memilih Kinaanah, dan dari Kinaanah Ia memilih Quraisy, dan dari Quraisy Ia memilih Bani Hasyim, dan dari Bani Hasyim Ia memilih aku.” (HR: Muslim dari Wa’ilah bin Al Asqa’)

Ibnu Katsir –rahimahullah– menjelaskan di dalam tafsirnya, tentang hubungan antara kesempurnaan agama ini dengan diutusnya Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, sebagai berikut:

هذه أكبر نعم اللّه تعالى على هذه الأمة حيث أكمل تعالى لهم دينهم، فلا يحتاجون إلى دين غيره،

ولا إلى نبي غير نبيهم صلوات الله وسلامه عليه، ولهذا جعله الله تعالى خاتم الأنبياء، وبعثه إلى الإنس والجن،

فلا حلال إلا ما أحله ولا حرام إلا ما حرمه، ولا دين إلا ما شرعه.

Inilah ni’mat-ALLAH yang terbesar atas umat ini, yakni ketika IA menyempurnakan agama mereka. Sehingga mereka tak lagi membutuhkan agama-agama lain, juga tak lagi membutuhkan nabi selain dari nabi-nabi mereka sendiri. Dan karenanya ALLAH jadikan dia sebagai penutup para nabi, yang diutus bagi segenap jin dan manusia. Maka tak ada yang halal selain yang telah dia halalkan, dan tak ada yang haram selain yang dia haramkan. Dan tak ada agama selain apa yang telah dia tetapkan….”

Beliau adalah sesempurna-sempurnanya akhlaq manusia yang diutus antara lain untuk memperbaiki serta menyempurnakan akhlaq manusia, sebagaimana yang ALLAH subahanahu wa ta’ala tegaskan;

(Artinya: “Sesungguhnya engkau memiliki akhlaq yang agung.”) (Al Qalam:4)

kemudian Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam nyatakan sendiri:

عن أبي هريرة رضى الله تعالى عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:

بعثت لأتمم صالح الأخلاق

Aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq manusia.”

Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam diutus untuk mengajari manusia tentang kejujuran, karenanya mustahil kalau dirinya sendiri pendusta. Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam diutus untuk mengajari manusia tentang amanah, karenanya mustahil kalau dirinya sendiri khianat. Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam diutus untuk mengajari manusia tentang Al Haq, karenanya mustahil kalau dirinya sendiri menempuh cara-cara yang bathil.

Untuk misi yang sangat mulia inilah karenanya ALLAH SUBAHANAHU WA TA’ALA tidak membiarkan Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam berbicara kecuali di bawah bimbingan wahyu.

(Artinya: “.Tidaklah dia (_Muhammad-) berucap mengikuti hawa-nafsu. Tidak lain yang diucapkan adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya…”) (An-Njam: 3 – 4)

Bahkan lebih dari itu, Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam pun diperintahkan ALLAH SUBAHANAHU WA TA’ALA untuk mengajari para pengikutnya, agar meneladani cara-cara beliau berda’wah.

(Artinya: “Katakanlah (-wahai Muhammad-) :Inilah jalanku. Aku menyeru kepada ALLAH di atas bashirah. Aku dan mereka yang mengikutiku…”) (Yusuf:108)

Sehingga ALLAH SUBAHANAHU WA TA’ALA pun memberikan jaminan akan keteladanan Beliau, dari sisi atau sudut manapun dan sebagai apapun dia.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً

(الأحزاب:21)

(Artinya: Sungguh pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi mereka yang mengharapkan perjumpaan dengan ALLAH dan hari Akhir, serta banyak mengingat ALLAH.) (Al Ahzab:21)

Setelah begitu sempurnanya ALLAH SUBAHANAHU WA TA’ALA persiapkan Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam, dipilih dari keluarga terhormat di kalangan dan pada zamannya, dikenal sebagai Al Amin bahkan sebelum dilantik menjadi nabi, dihiasai dengan akhlaq mulia yang diakui bahkan oleh musuh-musuhnya, dibimbing di dalam bicara dan berda’wah. namun masih begitu banyak yang mendustakannya dan hidayah tak mereka peroleh. Maka bagaimana pula jadinya jika melalui seseorang yang bukan dipersiapkan oleh ALLAH SUBAHANAHU WA TA’ALA, bukan utusan-NYA, tak dikenal sebagai Al Amin, belum terbukti akhlaqnya, serta tidak dibimbingan ALLAH di dalam bicara dan berda’wah?

Sungguh benar ucapan Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam tentang apa yang akan terjadi:

عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:


ستأتي على الناس سنون خداعة يصدق فيها الكاذب ويكذب فيها الصادق

ويؤتمن فيها الخائن ويخون فيها الأمين وينطق فيها الرويبضة

قيل: وما الرويبضة

قال: السفيه يتكلم في أمر العامة.(مسند أحمد)

Akan datang pada manusia masa yang penuh tipu daya. Para pendusta dianggap jujur, sebaliknya orang jujur dicap pendusta. Orang yang khianat dianggap amanah, dan orang yang amanah dicap penghianat. Dan para Ruwaibidhah mulai angkat bicara.” Ada yang bertanya:” Apa itu Ruwaibidhah?” Beliau menjawab,”Orang dungu yang sok berbicara tentang umat.”

Inilah saatnya zaman tersebut ! Zaman yang lebih buruk dari pada zaman ketika Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam diutus. Orang-orang jahiliyah di masa itu hanya mendustakan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Mereka hanya mendustakan kebenaran, tetapi tidak pernah membenarkan kedustaan. Bahkan kedustaan dianggap sebagai akhlaq orang-orang rendahan. Mereka tidak pernah menjadikan kedustaan sebagai wasilah untuk menggapai maksud. Mereka tidak pernah menghalalkan cara-cara hina guna mencapai tujuan . Perhatikanlah bagaimana ucapan Abu Sufyan ketika ditanya oleh Raja Najasi, Hiraklius, perihal Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.

فوالله لولا الحياء من أن يأثروا علي كذبا لكذبت عنه.

“…Demi ALLAH. Kalaulah tidak takut malu akan disebut pendusta, sungguh aku sudah berdusta tentangnya…” (HR: Al Bukhari)

Mereka hanya menuduh dan mencap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai orang gila yang dengan sihirnya memecah belah bangsa Arab, tidak lebih dari itu. Tetapi mereka tidak pernah menganggap atau mencap orang-orang khianat sebagai amanah. Ketika itu, da’wah yang haq -dan yang disampaikan dengan cara yang haq- didustakan. Tetapi da’wah yang bathil -dan yang disampaikan dengan cara yang bathil- tak pernah ada dan tak pernah mereka benarkan.

Adapun zaman sekarang, da’wah yang haq didustakan -dengan berbagai alasan-. sedangkan da’wah yang bathil dibenarkan dan dianggap benar -juga dengan berbagai alasan-. Khabar yang shahih diragu-ragukan, sedangkan cerita khayali dianggap suatu kebenaran. Da’wah yang haq ditinggalkan, sedangkan kedustaan dijadikan wasilah da’wah.

Cerpen, dongeng, sandiwara, dan yang semisal dengannya tidak lebih dari bentuk-bentuk kedustaan atau kebohongan yang dikemas dengan keindahan bahasa, alur cerita, dan cara pengungkapan. Tetapi hakekatnya tetap dusta. Sedangkan agama yang haq dan mulia ini sama sekali tidak membutuhkan bantuan atau topangan berbentuk kedustaan. Sungguh agama ini terlalu suci dan terlalu mulia untuk mengharapkan bantuan dan pertolongan dari kebathilan.

(Artinya: “Maka tak ada setelah AL Haq, selain kesesatan.”) (Yunus: 32)

Jika melalui pribadi yang sudah dipersiapkan sedemikian rupa saja da’wah belum tentu menyebabkan seseorang mendapat hidayah. Maka apa yang diharapkan melalui da’wah yang dibangun di atas kedustaan?

Lantas, apa artinya ucapan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam -yang senantiasa mengawali khutbah-khutbahnya- bagi kita semua:

إن اصدق الحديث كتاب الله وخيرا الهدي هدي النبي…..

Sesungguhnya, sebenar-benar pembicaraan adalah Kitabullah. Dan sebaik- baik petunjuk adalah petunjuk An-Nabi….”

Lantas, apa sebabnya kita bisa membenarkan kedustaan? Menganggap dongeng khayali sebagai wasilah da’wah sama saja dengan membenarkan kedustaan, sekaligus mendustakan kebenaran. Bukankah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan kita akan hal ini? Akankah peringatan itu kita dustakan pula?

Ya, inilah saatnya zaman tersebut ! Di mana kebenaran didustakan dan kedustaan dibenarkan.!

Buletin Jum’at Risalah Tauhid -Depok- edisi 73

(http://www.mimbarislami.or.id/?module=artikel&opt=default&action=detail&arid=72)

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: