KEUTAMAAN TAUHID

Penulis : Al Ustadz Asasuddin

Setelah mengetahui -melalui pembahasan yang telah lalu- makna tauhid dengan ketiga macamnya, maka sebagai penyempurna, akan kami paparkan tentang keutamaan tauhid. Sehingga ketika kita telah mengerti hakekat maknanya serta kewajiban yang harus kita lakukan atas hak-ALLAH, kemudian ditambah dengan mengetahui keutamaanya, maka tentunya setiap insan akan merasa terpanggil dan merasa ringan untuk menjalankan kewajiban tersebut.

Pembaca -rahimakallah-, simaklah beberapa dalil dari Al Qur’an dan As-Sunnah berikut ini yang menunjukkan keutamaan tauhid:

1. Meperoleh rasa aman dan petunjuk di dunia dan akhirat

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

(Artinya: Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.)(Al-An’am:82)

Berkata Al Imam Ibnu Katsir di dalam tafsirnya, “Orang-orang yang memurnikan ibadah hanya untuk ALLAH semata (-yang tiada sekutu bagi-NYA-) , lalu tidak menyekutukan dengan selain NYA, maka mereka adalah orang orang yang mendapatkan rasa aman di hari kiamat serta mendapatkan petunjuk di dunia dan di akhirat.”

Arti “kezaliman” di sini adalah” kesyirikan”, bukan kezaliman secara umum yang banyak dipahami oleh kita. Sebagaimana tersebut di dalam sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

“Ketika turun ayat: (الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْم) ٍ para Sahabat berkomentar: “Wahai Rasulullah, siapa di antara kami yang luput dari perbuatan zalim?” Rasululllah pun

menjawab: Bukan seperti itu maksudnya. Makna zalim yang dimaksudkan adalah kesyirikan. Tidakkah kalian mendengar ucapan Luqman kepada puteranya {-Hai anakku, janganlah engkau berbuat syirik, karena perbuatan syirik adalah kezaliman yang besar.-}?) ( HR:Al Bukhoriy dan Imam Ahmad)

Demikian juga di dalam ayat lain menjelaskan makna zalim adalah syirik..

(Artinya: Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.) ( Al Baqarah: 254)

Dan ayat lainnya:

(Artinya: Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa`at dan tidak (pula) memberi mudharat kepada mu selain ALLAH. Sebab jika kamu berbuat (-yang demikian-) itu, maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zalim.) ( Yunus: 106 / Tafsir Ibnu Katsir, Asy-Syinqitiy dan Jalalain)

Berkata Asy-syaikh As-sa’diy di dalam tafsirnya, “Orang-orang yang mentauhidkan ALLAH akan merasa aman dari perkara yang menakutkan,adzab serta kesengsaraan, dan mendapatkan petunjuk ke jalan yang lurus. Apabila mereka tidak mengotori keimanannya dengan kezaliman secara umum -baik syirik atau bentuk maksiat lainnya-, maka bagi mereka rasa aman berserta hidayah yang sempurna. Dan siapa yang tidak mengotori nya dengan noda syirik saja namun masih mengotori nya dengan maksiat lainnya, maka ia hanya mendapatkan rasa aman berserta hidayah secara umum.sebaliknya siapa yang tidak mendapatkan keduanya( rasa aman dan hidayah) berarti ia sesat dan sengsara.”

2. Kepastian akan masuk surga.

عن عبادة بن الصامت قال : قال رسول الله : « من شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ،

وأن محمدا عبده ورسوله ، وأن عيسى عبد الله ورسوله وكلمته ألقاها إلى مريم وروح منه ، والجنة حق والنار حق ،

أدخله الله الجنة على ما كان من العمل » . أخرجاه .

Dari Ubadah bin Ash-Shomith radhiyallahu ‘anhu ,berkata Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam, “Barang siapa bersaksi laa ilaaha illallah semata dan tidak ada sekutu bagi-NYA, Muhammad adalah hamba dan utusan-NYA, Isa adalah hamba dan utusan-NYA dan kalimat-NYA yang IA sampaikan kepada Maryam serta Ruh dari ALLAH, meyakini pula kebenaran neraka dan surga, maka niscaya ALLAH akan memasukkan ke surganya dengan kadar amalan yang telah diperbuatnya di dunia.”

Berdasarkan hadits di atas Al-Imam Muslim meletakkan sebuah bab dalam kitab Al-Iman “Barang siapa yang mati di atas mentauhidkan ALLAH maka ia pasti masuk surga”.

Kalimat “syahadat” mengandung banyak makna di dalamnya. Karena yang dimaksudkan bersyahadat dengan kalimat tauhid adalah bilamana seseorang itu mengucapkanya, mengerti maknanya, kemudian melakukan apa yang menjadi keharusannya -baik yang nampak maupun yang tidak nampak-. Maka bisa dikatakan bahwa kalimat “syahadat” mencakup tiga unsur, yaitu Al Ilmu, Al Yakin, dan Al Amal.

ALLAH subahanahu wa ta’ala berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

(Artinya: Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan ALLAH) ( Muhammad:19).

إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

(Artinya: Dan sesembahan yang mereka sembah selain ALLAH tidaklah dapat memberi syafa`at; akan tetapi (-yang dapat memberi syafa`at-) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini (nya).) ( Az-Zukhruf:86)

Karena itu, mengucapkan kalimat tauhid tanpa mengerti maknanya,meyakininya, dan mengamalkan -keharusan berlepas diri dari perbuatan syirik serta mengikhlaskan ucapan dan perbuatan untuk ALLAH- tidaklah bermanfaat bagi pengucapnya. Al Imam Al Qurtubi menegaskan, “Tidak cukup seseorang hanya mengucapkan kalimat tauhid. Akan tetapi harus pula diyakini oleh kalbunya.” ( Al Mufhim ‘Ala shohih Muslim)

Hanyalah orang-orang Murji’ah yang mengatakan bahwa, mengucapkan kalimat syahadat saja sudahlah mecukupi tanpa harus melakukan apa yang menjadi konsekuensi dari kalimat tersebut.. Keyakinan yang demikian sama saja dengan membolehkan seseorang berlaku nifaq. .Demikian pula orang yang mengerti maknanya namun tidak mau mengucapkan nya , maka belum dihukumi sebagai muslim sampai mau mengucapkan nya, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka mau mengucapkan laa ilaaha illa’llah.” (HR: Al Bukhory dan Muslim dari hadits Abu Hurairah)

Sebaliknya, orang yang telah mengucapkan nya namun tidak meyakininya dan tidak mengamalkan nya, maka ia bukan seorang muslim, bahkan seorang munafik.

Adapun kalimat syahadat yang ke-dua: وأن محمدا عبده ورسوله. adalah sebagai berikut. Al ‘Abdu, pengertiannya adalah seorang hamba di mana ALLAH sebagai pemiliknya. Menghambakan diri merupakan sifat dari Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, Di dalam Al Qur’an kita dapati sering kali ALLAH memanggil nya dengan sebutan hamba.

(Artinya: Dan jika kamu (-tetap-) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (-Muhammad-)) (Al Baqarah: 23)

(Artinya: Maha Suci ALLAH Yang telah memperjalankan hamba-NYA pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha.) (Al Isra’:1)

. (Artinya: Maha Suci ALLAH Yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur’an) kepada hamba-NYA.) (Al Furqaan: 1)

Berdasarkan keterangan di atas, kedudukan tertinggi seorang hamba adalah apabila terkumpul pada nya dua sifat yang mulia, yaitu penghambaan diri kepada yang Maha Kuasa serta kerasulan. Dan Nabi Muhamamad shalallahu ‘alaihi wasallam -di antara makhluq-ALLAH yang paling sempurna yang memilki dua sifat tadi- sama sekali tidak memilki sifat rububiyyah yang mengharuskan seseorang beribadah serta menghambakan diri kepada nya. Sifat rububiyyah dan uluhiyyah adalah mutlak semata milik ALLAH. Tidak ada sekutu bagi ALLAH -baik berupa seorang malaikat terdekat ataupun seorang nabi yang diutus- dalam kedua sifat tersebut di atas.

Kedua sifat yang Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam sebut itu sebagai bantahan terhadap sikap-sikap tercela yaitu ifrath (berlebih-lebihan di dalam menyikapi beliau sebagai seorang hamba-ALLAH ) dan tafrith (sikap meremehkan akan hak-hak beliau sebagai seorang rasul). Dan ternyata memang banyak manusia yang bersikap berlebihan terhadap kedudukan beliau sebagai seorang hamba, sementara di sisi lain banyak pula yang meninggalkan ittiba’ kepada Rasulullah.

Adapun keyakinan yang ke-tiga: عيسى عبد الله ورسوله adalah bahwa Isa bin Maryam adalah hamba dan utusan-NYA, tidak seperti yang diyakini kaum Nasrani, bahwa Isa adalah anak ALLAH. ALLAH subahanahu wata’ala membantah keyakinan yang batil tersebut di dalam banyak ayat, di antaranya:

(Artinya: ALLAH sekali-kali tidak mempunyai anak.) (Al-Mukminun:91)

(Artinya: Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, bahwasanya ALLAH salah satu dari yang tiga. Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (-yang berhak disembah-) selain Tuhan Yang Esa.) (Al Maidah:73)

Keyakinan berikutnya adalah, bahwa Isa tercipta dengan kalimat-NYA serta tiupan ruh dari NYA, juga meyakini akan kebenaran surga dan neraka. Maka dengan demikian, pasti ALLAH akan memasukkan ke dalam surga sesuai dengan amalannya di dunia.

3. Tauhid menjadi perisai terhadap api neraka.

Berdasarkan hadits Itban bin Malik, Rasullullah r bersabda:

فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّه

“Sesungguhnya ALLAH telah mengharamkan neraka bagi siapa yang mengucapkan laa ilaaha illa’llah, berharap dengan kalimat tersebut mendapatkan wajah Allah.” ( HR: Al Bukhori dan Muslim)

4. Tauhid sebagai pelebur dosa.

عن أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ ,سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ يَقُولُ :

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي

يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. .Aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“ALLAH berfirman: Hai, Bani Adam. Selama engkau masih memohon kepada Ku dan berharap pada Ku, aku ampuni dosa-dosamu, dan aku tidak peduli akan besarnya. Kalaupun dosamu memenuhi langit lalu engkau meminta ampunan-KU, niscaya Aku mengampuni nya. Hai, Bani Adam. Walaupun engkau datang kepada Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi namun engkau tidak berbuat syirik sedikitpun, niscaya Aku akan mendatangi mu dengan ampunan sepenuh bumi.” ( HR: At-Tirmidzi)

Pembaca -rahimakallah- , semoga uraian di atas bisa lebih mendekatkan diri kita kepada ALLAH, yakni dengan cara mentauhidkan NYA dan tidak mempersekutukan NYA sedkitpun dengan makhuk-NYA. Semoga ALLAH subahanahu wa ta’ala mematikan kita semua di atas Tauhid dan melenyapkan segala bentuk kesyirikan yang menjerat kaum muslimin, Amin, Ya rabba’ l Alamiin.

(http://www.mimbarislami.or.id/?module=buletin&opt=default&action=detail&blid=28)

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: