Hanya Dengan Al Qur’an dan As-Sunnah ‎Kaum Muslimin Akan Kembali Berjaya ‎

Penulis : Asy-syaikh Abdul Malik Ramadloni

Tema di atas merupakan nasehat bagi kaum muslimin yang belum yakin terhadap peran Al Kitab dan As-Sunnah di dalam mengembalikan kejayaan kaum muslimin yang telah lama hilang dan direbut oleh musuh musuh Islam. Terlebih lagi karena -sejak jatuhnya Andalusia- kaum kafir dan munafiqun telah menjajah kaum muslimin. Kemudian keadaan di Palestina, tragedi Bosnia, dan dinegeri kita sendiri ketika kaum kuffar membabi buta menghancurkan kaum muslimin di wilayah Ambon dan di tempat yang lainnya, yang kesemua itu melemahkan keyakinan sebagian kaum muslimin yang memang sudah lemah imannya.

Akhirnya keadaan kaum muslimin semakin lemah dan tidak berdaya ketika tidak lagi berpegang kepada sumber kekuatannya, yaitu Al Kitab dan As-Sunnah. ALLAH subahanahu wa ta’ala menimpakan kehinaan kepada hamba-NYA ketika mereka berburuk sangka terhadap dua kekuatan tadi. Mereka menganggap bahwa, keduanya tidak memberikan solusi serta perubahan yang signifikan terhadap keadaan umat Islam. Mereka juga beranggapan bahwa, gerakan gerakan dakwah di masjid, baik dalam bentuk studi Islam, kajian kitab, maupun menghafal Al Qur’an dan Al Hadits, tidak akan mampu menghadang laju gerakan musuh-musuh Islam yang didukung dengan berbagai sarana dan fasilitas yang mereka miliki.

Sungguh, tidak sepantasnya seorang muslim memiliki sangkaan atau melontarkan statemen seperti di atas, karena hal itu akan berdampak negatif kepada kaum muslimin sendiri. Disibukkannya kaum muslimin -dewasa ini- oleh metode-metode yang justru menjauhkan mereka sendiri dari semangat mempelajari serta mengamalkan agama ini merupakan bukti secara tak langsung dampak negatif tersebut.

Ketahuilah, wahai saudaraku! Sebesar apapun makar dan tipu daya musuh musuh Islam tentu tidak akan bisa memberikan mudlorot kepada kaum muslimin, bilamana kaum muslimin mau bersabar, tidak terburu buru, serta berusaha untuk menjalankan perintah ALLAH sekaligus menjauhi larangan-NYA, sebagaimana ALLAH telah berfirman:

(Artinya:”Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepada mu. Sesungguhnya ALLAH mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.( Ali Imran:120)

Wahai, saudaraku seiman! Tidakkah kita mengetahui bahwa kaum kuffar tak akan mampu menjerumuskan kita ke lembah kekufuran bilamana kita berpegang teguh kepada dua wahyu, Al kitab dan As-Sunnah? ALLAH suabahanahu wa ta’ala menegaskan di alam firman-NYA:

(Artinya:Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat ALLAH dibacakan kepada kamu, dan Rasul-NYA pun berada di tengah- tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) ALLAH maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.(Ali Imran: 100 – 101)

Kedua ayat di atas mengandung dua hal:

1. Orang orang yang senantiasa berpegang teguh kepada kedua wahyu terjaga dari kekufuran. Berkata Ibnu Katsir rahimahullah: “Bahwa (-maksudnya- ) kekufuran sangatlah jauh menimpa kalian (-para sahabat- ed) dan mustahil hal itu terjadi. dikarenakan ayat ayat ALLAH masih turun kepada Rasulullah di siang dan malam hari, dan beliau masih membacakan untuk kalian ( lihat tafsir Ibnu Katsir 1/597 cetakan Darul Fikri)

2. ALLAH subahanahu wa ta’ala membeberkan tipu daya serta hasrat orang orang kafir terhadap kaum muslimin, yaitu keinginan agar kaum muslimin menjadi kafir seperti mereka, sebagaimana pernyataan ALLAH subahahu wata’ala di dalam ayat yang lain:

(Artinya: Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.) (Al Baqoroh : 109)

Seolah-olah ALLAH mengatakan: Meskipun makar mereka sangat hebat seakan mampu menghancurkan gunung, -sebagaimana di dalam firman-NYA: (Artinya: Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar. Padahal di sisi ALLAH-lah (balasan) makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karena nya.)(Ibrohim:46) -niscaya iman kalian tidak akan lebur karena nya, selama kalian berpegang teguh kepada kedua wahyu, Al Kitab dan As-Sunnah.

Bagi orang yang memiliki keyakinan, hal di atas bukanlah perkara yang aneh. Bahwa ALLAH menjadikan wahyu sebagai penopang kehidupan. ALLAH subahanahu wa ta’ala berfirman:

(Artinya:Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan ALLAH dan seruan Rasul, apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kam.) (Al-Anfaal: 24)

Sehingga boleh dikatakan bahwa orang yang lebih hidup hatinya adalah mereka yang mengikuti wahyu yang dengan itu mereka aman dari kesesatan. Dengan demikian kita mengetahui rahasia di balik sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam :

تركت فيكم أمرين لن تضلوا ما مسكتم بهما كتاب الله وسني

(Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara denganya kalian tidak akan tersesat selama lamanya kitabullah dan sunnahku.) ( HR:Malik dengan sanad Hasan)

Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu pun berkata:

ليست تاركا شئا كان رسول الله r يعمل به وإني أخشى إن تركت شئا من أمره أن أزيغ

(Tidak ada satu amal perbuatan yang pernah dilakukan Rasulullah kecuali aku melakukan nya .Dan aku khawatir bila aku meninggalkan nya, maka aku akan tersesat.) ( HR Bukhori dan Muslim)

Dan para Rasul alahimussalam pun merupakan profil manusia yang sangat teguh mengikuti wahyu sehingga pertolongan serta penjagaan-ALLAH senantiasa menyertai mereka. ALLAH subahanahu wa ta’ala berfirman:

(Artinya: ALLAH telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang”. Sesungguhnya ALLAH Maha Kuat lagi Maha Perkasa) (Al Mujadilah: 21)

(Artinya: Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul,(yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan.Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang) ( Ash-Shoffat:171-173)

(Artinya: Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat.) ( Al Mu’min:51)

Demikian pula bagi siapa saja yang mengikuti jejak para rasul, niscaya akan mendapatkan pertolongan serta penjagaan dari ALLAH, sebagaimana ALLAH katakan kepada Musa dan Harun serta para pengikut keduanya:

(Artinya: “Kami akan membantu mu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepada mu berdua kekuasaan yang besar, maka mereka tidak dapat mencapaimu; (berangkatlah kamu berdua) dengan membawa mu`jizat Kami, kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang menang”) ( Al Qoshosh: 35)

Kepada Isa ‘alaihi wasallam dan pengikutnya ALLAH subahanahu wa ta’ala berkata:

(Artinya:(Ingatlah), ketika ALLAH berfirman: “Hai `Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang- orang yang kafir hingga hari kiamat.”) ( Ali Imran: 55)

Berkata Al Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah: “Ketika kaum Nashroni sangat teguh mengikuti ajaran Isa ‘alaihi wasallam maka mereka berada di atas bangsa Yahudi hingga hari kiamat. Dan ketika kaum muslimin lebih teguh -dibanding kaum Nashroni- untuk mengikuti ajaran nabinya maka mereka pun berada di atas kaum Nashroni hingga hari kiamat.”( Ighotsatullahafan 2/ 197-198). Ibnu Taimiyah juga menegaskan: “Oleh karena itu, barangsiapa yang sangat teguh mengikuti ajaran Rasulullah shalallahu ‘alakihi wasallam maka ALLAH akan menyertainya sesuai dengan keteguahan di dalam mengikuti ajarannya. ALLAH subahanahu wata’ala berfirman: (Artinya: Hai Nabi, cukuplah ALLAH (menjadi Pelindung) bagi mu dan bagi orang-orang mu’min yang mengikuti mu.( Al Anfaal :64) .”

Maka siapa saja dari kaum muslimin yang mengikuti Rasulullah, ALLAH lah sebagai pelindungnya. Penjagaan( perlindungan) yang besar itu didapat sesuai dengan teguhnya dalam iitiba’ . Sehingga seandainya saja ada orang beriman dan teguh mengikuti nabinya mendapatkan permusuhan, maka ALLAH akan selalu menjaga nya. Ia mendapatkan jaminan keamanan seperti yang tersebut di dalam AL Qur’an:

(Artinya:Jikalau kamu tidak menolong nya (Muhammad) maka sesungguhnya ALLAH telah menolong nya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluarkan nya (dari Makkah) sedang dia salah satu dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya ALLAH beserta kita.” Maka ALLAH menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantu nya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya.) ( At-Taubah : 40)

Mereka pantas mendapatkan yang demikian disebabkan hati mereka bersesuaian dengan Rasulullah meskipun jasad mereka tidak menyertai nya, sebagaimana digambarkan di dalam sebuah riwayat::

(“Bahwa di kota Madinah ada sekelompok manusia. Tidaklah kalian menempuh perjalanan serta melintasi lembah melainkan mereka berserta kalian.” Mereka bertanya: “Meskipun mereka di kota Madinah?” Beliau menjawab: “Benar, walaupun mereka di kota Madinah. Sebab mereka terhalang udzur.”) ( HR: Al Bukhory dan Muslim)

Dengan hati mereka -yang pada hakekatnya- bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan para Sahabat yang lain di medan peperangan, maka ALLAH pun bersama mereka yang menyertai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan para Sahabat secara maknawi.( Minhajussunnah 8/487).

Hal tersebut dibenarkan Al Qur’an, bahwa mereka menyertai dengan apa yang ada dalam hati mereka ,yakni ketika mereka datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam meminta untuk ikut serta berjihad namun Rasulullah subahanahu wata’ala menolaknya dengan alasan bekal tidak mencukupi. Akhirnya, mereka pulang dengan meneteskan air mata seakan hati mereka terbakar oleh api. ALLAH subahanhahu wa ta’ala menceritakan keadaan mereka di dalam Al Qur’an:

(Artinya:Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu”, lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.) (At- Taubah:92).

Kemudian beliau (Ibnu Taimiyah) rahimahullah berkata: “Seandainya saja mereka seorang diri di suatu zaman dan negeri, teguh di dalam menjalankan ajaran Rasulullah,dan tidak ada seorangpun yang membelanya , niscaya ALLAH akan senantiasa menyertai nya. Maka ia termasuk yang di sebut dalam Al Qur’an:

(Artinya: Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya ALLAH telah menolong nya, (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluarkan nya (dari Makkah) sedang dia salah satu dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya ALLAH beserta kita.”).” ( At-Taubah : 40)

Membela Rasulullah seorang sama artinya dengan membela agama-NYA yang dibawa oleh utusan-NYA, kapan saja dan di mana saja. Dan barang siapa yang berjalan seiring dengan Rasulullah, maka ia telah menyertai Rasulullah -secara maknawi- , sehingga dengan itu niscaya ALLAH akan menjaga nya.

Mari kita lihat peristiwa yang terjadi pada diri Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu :

Usai Rasulullah menjalankan sholat Isya’ beliau mengajak Abdullah bin Mas’ud berjalan-jalan di sebuah lembah di kota Makkah. Lantas beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menyuruh nya untuk duduk, kemudina beliau shalallahu ‘alaihi wasallam membuat garis yang melingkari Ibnu Mas’ud seraya berkata: “Tetaplah engkau berada di garis tersebut, karena akan datang kepada mu para lelaki. Dan jangan kamu mengajaknya bicara niscaya merekapun tidak akan mengajak kamu bicara.” Usai berpesan beliau pergi. Dan ketika aku sedang duduk, tiba-tiba datang para lelaki berambut keriting, hitam raut mukanya, sambil menghampiri ku, namun mereka tidak sampai melewati garis pembatas. Dan tidak lama kemudian mereka pun pergi. ( Shohih sunan tirmidzi no2296)

Kita dapat melihat bagaimana Ibnu Ma’sud bisa selamat -dari orang-orang yang ingin berbuat jahat kepada nya- dengan sebab memenuhi perintah Ar-Rasul untuk tetap di batas garis. Padahal antara dia dan orang tersebut hanya dipisahkan oleh sebuah garis pemisah. yang seandainya dihembus angin tentu akan lenyap. Namun itu bukan garis pembatas biasa. Akan tetapi garis batas As-Sunnah, di mana seseorang akan terjaga bila menjaga garis tersebut.

Kisah lain yang tak kalah pentingnya untuk kita ketahui adalah ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengangkat Usamah bin zaid sebagai panglima perang membawahi 700 personil menuju kota Syam. Setibanya pasukan tersebut di kota Dzi Khosyab datang berita bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam wafat. Penduduk di sekitar Madinah banyak yang keluar (murtad) dari Islam. Para sahabt segera berunding dan memberi usulan kepada Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu -yang menjabat sebagai khalifah saat itu-. Mereka berkata: “Wahai Abu Bakr, tarik mundur mereka ! Engkau perintahkan mereka berperang melawan bangsa Rum sementara di negeri sendiri banyak yang murtad.” Dengan lantangnya Abu Bakr mengatakan: “Demi ALLAH, seandai pun ada anjing-anjing menyeret kaki-kaki para isteri Rasulullah, aku tidak akan menarik pasukan yang telah mendapat perintah dari Rasulullah, dan aku tidak akan melepas bendera perang yang telah dipancangkan oleh Rasulullah.”

Dikisahkan bahwa, tidaklah pasukan tersebut melewati negeri yang penduduknya ingin keluar dari Islam lantas mereka mengatakan” Seandainya mereka tidak memilik pasukan yang lebih besar tentu mereka tidak akan melepas pasukan tersebut. Tapi kita tunggu saja nanti apa yang terjadi.” Mulailah kaum muslimin berhadapan dengan pasukan bangsa Rum sehingga ALLAH berikan kemenangan pada mereka. Akhirnya mereka pulang membawa kemenangan sekaligus orang-orang munafik tadi kembali lagi memeluk ajaran Islam.

Dari kisah di atas kita semakin yakin, bahwa hanya dengan berpegang teguh kepada ajaran Islam lah kita akan kembali jaya serta selamat dari kekalahan dan kehinaan.

(Disadur secara ringkas dari Madarikun-nadlor fissiyasah -Asy-syaikh Abdul Malik Ramadloni-)

(http://www.mimbarislami.or.id/?module=buletin&opt=default&action=detail&blid=25)

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: