AJAKAN NABI KITA MUHAMMAD ‎shalallahu ‘alaihi wasallam

Penulis : Al Ustadz Asasuddin

Tidak sepantasnya bagi seorang muslim, yang telah mengetahui keutamaan mentauhidkan ALLAH subahanahu wata’ala serta bahayanya perbuatan syirik -kecil ataupun besar- , berdiam diri, hanya berupaya menyelamatkan dirinya sendiri, serta tidak memperdulikan dan mengajak saudaranya -sesama muslim- untuk mendapatkan keutamaan dan terhindar dari bahaya tersebut. Hendaklah ada dalam diri seorang muslim keinginan agar saudaranya mendapatkan apa yang ada pada dirinya, yang demikian itu menjadi pertanda akan kesempurnaan imannya.

Perhatikanlah apa yang dikatakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam

عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

(Dari anas bin Malik t, Rasulullah jbersabda, “Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai untuk saudaranya seperti ia mencintai untuk dirinya sendiri.”) (Muttafaq ‘alaih)

Mengajak manusia untuk mentauhidkan ALLAH subahanahu wata’ala dan meninggalkan perbuatan syirik adalah seutama-utama amalan seorang hamba. Karena tauhid merupakan landasan diterimanya amalan setiap hamba. ALLAH subahanahu wa ta’ala berfirman:

(Artinya: Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada ALLAH, mengerjakan amal saleh, dan berkata, “Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”) ( Fushilat:33)

Tentang ayat ini Al Hasan Al-Bashriy rahimahullah berkata, “Dialah kekasih ALLAH, wali-ALLAH,. manusia pilihan ALLAH, manusia terbaik di sisi ALLAH, dan penduduk bumi yang paling dicintai ALLAH.”

Begitu besar kedudukan seorang dai di sisi ALLAH subahanahu wa ta’ala . Mutiara kata Al Hasan Al Bashri di atas mendapat tanggapan yang cukup bagus dari Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah di dalam tafsirnya -tentang ayat di atas-: “Realisasi kebenaran cinta seorang hamba kepada ALLAH, juga dari ibadah dan ketaatanya, yakni manakala ia mengajak manusia ke jalan ALLAH serta berjihad di jalan-NYA disebabkan karena mencintai apa-apa dan siapa yang ALLAH cintai serta membenci apa-apa dan siapa yang ALLAH benci, kemudian menginginkan manusia semua bersama nya.”

Di samping itu , berda’wah (mengajak) manusia merupakan tugas utama dari semua utusan ALLAH subahanahu wa ta’ala, termasuk nabi kita, Muhammad j. Kehidupannya dihabiskan dengan berda’wah. Maka, manakala kita mengaku sebagai umatnya, kitapun harus menempuh jalan kehidupan yang beliau jalani. ALLAH subahanahu wa ta’ala berfirman:

(Artinya: Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada ALLAH dengan hujjah yang nyata. Maha Suci ALLAH, dan Aku bukan termasuk orang-orang yang musyrik.”) ( Yusuf : 108)

Tentang ayat ini Ibnu Jarir -di dalam tafsirnya- mengatakan, “ALLAH mengatakan kepada Nabi-NYA : Katakan, hai Muhammad! .Ajakan yang aku emban serta jalan yang aku ada di atas nya, mengajak manusia untuk mentauhidkan ALLAH serta memurnikan ibadah hanya untuk ALLAH semata, bukan untuk berhala atau sesembahan lainnya. Taat kepada NYA, dan tidak durhaka, adalah jalanku serta ajakanku. Aku mengajak untuk beribadah hanya kepada NYA dan tiada sekutu bagi NYA ,Aku mengajak berlandaskan ilmu. Itulah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku, beriman kepadaku . Dan aku mensucikan ALLAH dari sekutu-sekutu-NYA serta berlepas diri dari orang yang berbuat syirik. Aku bukan termasuk golongannya, dan merekapun bukan termasuk golonganku.”

Keterangan di atas menunjukkan, bahwa Nabi -kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam- mengajak umatnya untuk memurnikan ibadah hanya untuk ALLAH subahanahu wa ta’ala -tiada sekutu bagi NYA-, karena perkara tauhid merupakan kewajiban yang pertama bagi setiap muslim. Karena itu, awal pertama kali ajakan setiap rasul kepada kaumnya tidak lain kecuali agar mempersembahkan ibadah hanya kepada NYA.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Telah diketahui bersama, agama yang dibawa oleh para rasul, dan kaum muslimin pun sepakat, bahwa landasan Islam serta awal pertama kali perintah kepada makhluk adalah bersyahadat dengan dua kalimat syahadat. Dengan itu seorang yang kafir menjadi muslim, musuh menjadi kekasih, darah dan harta yang semula halal ( -untuk diganggu / ditumpahkan-) menjadi haram(terjaga). Lalu jika syahadat tadi menyerap di kalbunya, maka ia sebagai orang yang beriman. Namun bilamana syahadat itu hanya sebatas ucapan semata, tanpa diyakini, maka ia menampakkan keislamanya sedangkan hatinya tidak beriman. Dan bilamana seseorang tidak mau mengucapkan kalimat syahadat sementara ia mampu mengucapkanya, maka dengan kesepakaan jumhur ulama ia kafir.”

Di dalam riwayat yang shohih, yang dikeluarkan oleh Al Imam Al Bukhari dan Al Imam Muslim, dari sahabat Ibnu Abbas t, berkata Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ حِينَ بَعَثَهُ إِلَى الْيَمَنِ إِنَّكَ سَتَأْتِي قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ

فَإِذَا جِئْتَهُمْ فَادْعُهُمْ إِلَى أَنْ يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ

فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ

فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

Rasulullah j berkata kepada Mu’adz bin Jabalradhiyallahu ‘anhu ketika mengutusnya ke negeri Yaman: “Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari Ahlul Kitab. Maka apabila engkau telah sampai kepada mereka, ajaklah mereka untuk mempersaksikan bahwa tiada yang berhak diibadahi kecuali ALLAH dan Muhammad adalah utusan-ALLAH. Apabila mereke telah mentaatimu dalam perkara tersebut, maka katakan kepada mereka bahwa ALLAH mewajibkan bagi kalian sholat lima waktu. Lalu apabila mereka melaksanakanya, beritakan kepada mereka bahwa ALLAH mewajibkan shodaqoh yang dipungut dari orang yang mampu untuk dibagikan kepada yang tidak mampu. Dan hindarilah olehmu memungut harta yang paling istimewa, dan takutlah engkau akan doanya orang yang terdlolimi. Karena tiada penghalang antara doa orang yang terdlolimi dengan ALLAH subahanahu wa ta’ala.”

Terdapat riwayat yang shohih di dalam Kitab Tauhid Al Imam Al Bikhari: “Ajaklah mereka untuk mentauhidkan ALLAH.” Riwayat ini memperjelas makna sebenarnya dari kalimat syahadat, demikian juga di dalam riwayat yang lainnya :” Hendaklah yang pertama kali engkau sampaikan adalah beribadah kepada ALLAH.” Yang demikian itu dengan cara beriman kepada ALLAH dan mengingkari thoghut (segala sesembahan selain ALLAH), seperti yang ALLAH subahanahu wa ta’ala firmankan:

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

(Artinya: Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada ALLAH, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat, yang tidak akan putus. Dan ALLAH Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.) (Al Baqarah:256)

Al ‘Urwah Al wutsqo (tali yang kuat) yang dimaksudkan di sini adalah, kalimat laa ilaaha illa’llah. Kalimat syahadat ini adalah kalimat yang agung. Dan tidaklah kalimat ini akan memberikan manfaat bagi siapa pun yang mengucapkannya kecuali jika terpenuhinya tujuh syarat:

1. Berilmu (mengetahui) tentang makna yang dikandung di dalam kalimat tauhid.

2. Meyakini makna yang dikandung di dalam kalimat tauhid tersebut, sehingga tidak ragu lagi sedikitpun.

3. Menerima dengan hati yang tulus

4. Tunduk untuk melaksanakan konsekwensi dari kalimat tauhid tersebut

5. Ikhlas dalam beramaldan tidak berbuat syirik

6. Membenarkan dan tidak mendustakan hakekat tauhid

7. Mencintai tauhid dan tidak membenci nya

Kesimpulan yang bisa kita petik dari nash-nash di atas adalah:

1. mengajak ke jalan ALLAH (mentauhidkan ALLAH subahanahu wa ta’ala) merupakan jalan orang-orang yang mengikuti Rasulullah j.

2. Berdakwah haruslah dilandasi Al Bashiroh ( ilmu).

3. Prioritas pertama di dalam berdakwah adalah menjelaskan tauhid sebagaimana dakwah yang telah lakukan oleh para nabi.

4. Mentauhidkan ALLAH / mempersembahkan ibadah hanya kepada ALLAH semata merupakan arti sebenarnya dari kalimat syahadat laa ilaaha illa’llah.

5. Mengajarkan ilmu secara bertahap dan mendahulukan perkara yang terpenting.

6. Sholat merupakan kewajiban yang paling agung setelah Syahadat.

7. Dibolehkannya mendistribusikan zakat kepada satu golongan saja, menurut madzhab Imam Malik dan Ahmad,.

8. Seorang penguasa berperan memegang dan mendistribusikan zakat lewat wakilnya. Barangsiapa yang enggan mengeluarkan zakat, maka penguasa berhak memaksanya.

Dari apa yang diuraikan di atas, kami mengajak kaum muslimin untuk ikut andil mengajarkan tauhid, agar supaya saudara kita mendapatkan keutamaannya serta terhindar dari perbuatan syirik sehingga selamat dari bahayanya. Seorang muslim adalah saudara muslim yang lainnya. Tidak boleh seseorang membiarkan saudaranya terperosokkei dalam jurang kesyirikan. Kita sebagai pengikut Nabi Muhmmad shalallahu ‘alaihi wasallam hendaknya mencontoh kehidupannya, agar kita senantiasa mendapatkan hidayah di dunia ini, amin.

(http://www.mimbarislami.or.id/?module=buletin&opt=default&action=detail&blid=31)

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: