‎“…dan Muhammad adalah Utusan ALLAH.”

Penulis : Abu Khaulah Zainal Abidin

Itulah terjemahan sekaligus arti -yang kita hafal sejak kecil- dari penggalan Syahadat “wa anna Muhammadarrasulullah.”. Tidak salah memang, jika itu artinya, karena demikianlah terjemahannya secara bahasa. Tetapi, cukupkah itu ? Cukupkah bagi kita arti secara bahasa?

Sekedar memahami secara bahasa, inilah di antara sebab mengapa kita masih bergelimang di dalam perbuatan-perbuatan yang justru bertentangan dengan maksud atau makna dari kalimat itu sendiri. Sebagaimana banyaknya manusia mengucapkan “لاإله الاالله” namun senantiasa bergelimang dengan kesyirikan, padahal yang dituntut dari kalimat tersebut adalah mentauhidkan ALLAH. Begitu pula, betapa banyaknya manusia mengucapkan “و ان محمدا رسول الله “ namun senatiasa bergelimang dengan kebid’ahan, padahal yang dituntut dari kalimat tersebut adalah meneladani Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

“…dan Muhammad adalah Utusan ALLAH.”

Itu artinya “طاعته فيما امربه” (menta’ati apa yang Ia perintahkan).

ALLAH subahanahu wa ta’ala berfirman:

(Artinya: Dan Kami tidak mengutus seorang rasul melainkan untuk dita’ati dengan seizin ALLAH) (An-Nisaa’:64)

Dan belumlah kita termasuk orang yang ta’at kepada ALLAH sebelum kita menta’ati Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, karena tanda keta’atan kita kepada ALLAH subahanahu wa ta’ala ditunjukkan melalui keta’atan kita kepada Rasul-NYA shalallahu ‘alaihi wasallam. Demikianlah yang telah ALLAH subahanahu wa ta’ala tetapkan.

(Artinya: Barangsiapa yang menta’ati Ar-Rasul, berarti ia telah menta’ati ALLAH.) (An-Nisaa’:80)

Dan Kekasih ALLAH ini shalallahu ‘alaihi wasallam pernah berucap:

من أطاعني فقد أطاع الله، ومن عصاني فقد عصى الله

(Barangsiapa yang ta’at kepadaku, berarti telah ta’at kepada ALLAH. Dan barangsiapa yang menentang aku, berarti telah menentang ALLAH.) (HR: Al Bukhari)

Ya, menta’ati Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam itu artinya menta’ati ALLAH subahanahu wa ta’ala. Dan mustahil, atau kita telah berdusta, jika mengaku ta’at kepada ALLAH sementara ma’shiyat kepada Rasul-NYA. Dan tentunya tak ada jalan untuk mengetahui -sudah atau belumkah kita ta’at kepada beliau- , kecuali setelah kita mengenal seluruh perintah dan larangannya. Juga tak ada jalan untuk mengenal seluruh perintah dan larangannya, kecuali setelah kita mempelajari melalui para pewarisnya, yakni ulama.

Ya, bukankah “para ulama itu pewaris para nabi” ? Bukankah ALLAH subahanahu wa ta’ala memerintahkan kita untuk senantiasa bertanya kepada mereka, sehingga keta’atan kita kepada mereka menjadi bukti dari keta’atan kita kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

ALLAH subahanahu wa ta’ala berfirman:

(Artinya: …maka bertanyalah kepada ahli dzikir seandainya kalian tidak mengetahui…) (ِAn-Nahl:43)

Maka tak ada jalan bagi kita untuk dapat dikatakan ta’at kepada ALLAH kecuali melalui keta’atan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, dan tak ada jalan bagi kita untuk dapat dikatakan ta’at kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam kecuali melalui keta’atan kepada ulama, kepada hamba-ALLAH -yang takut kepada ALLAH- yang ahli dalam perkara AL Qur’an, As-Sunnah, dan Atsar Sahabat.

Lantas siapa kita ini, seandainya tak mengenal ulama atau senantiasa menjauh dari ulama dan enggan mendekatinya?

“…dan Muhammad adalah Utusan ALLAH.”

itu artinya ” تصديقه فيما أخبر“ (membenarkan apa yang ia kabarkan)

ALLAH subahanahu wa ta’ala berfirman:

(Artinya: …dan tidaklah yang diucapkannya itu mengikuti hawa nafsunya. Tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.) (An-Najm:3-4)

Dan Kekasih ALLAH ini subahanahu wa ta’ala pernah berucap:

فوالذي نفسي بيده ما خرج مني إلا حق. (حديث عبد الله بن عمرو بن العاص )

(“Demi Yang jiwaku di tangan-NYA. Tidaklah keluar dari (-lisan-)ku kecuali kebenaran”) (Hadits Abdullah bin Amr ibn Al-Ash – Musnad Ahmad)

Ya, semua yang dikabarkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam baik perkara yang tampak maupun yang ghaib, yang pernah maupun yang belum terjadi, adalah benar.Tak boleh terlintas -walau sekejap, walau dugaan- bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah berdusta atau membohongi manusia, sekecil apapun urusannya, siapapun manusianya. Tidak di dalam gurau, apa lagi di dalam da’wah.

Ya, da’wah ini (Al Islam) terlalu mulia untuk dilekatkan dengan kedustaan. Dan kemuliaan ini sama sekali tak membutuhkan topangan kedustaan. Karena memang tak ada kebenaran (Al Haq) yang dibangun di atas kebatilan, tak ada kemurnian dibangun di atas kepalsuan, dan tak mungkin kejujuran dicapai melalui kedustaan.

Lantas, siapa yang mengilhami para penulis untuk berda’wah dengan dongeng, yang mengilhami para seniman untuk berda’wah lewat sandiwara? Siapa yang mengilhami mereka ? Siapa yang mereka contoh?

“…dan Muhammad adalah Utusan ALLAH.”

itu artinya “وزجر إجتناب ما نهى عنه“(menjauhi yang dilarang dan dicelanya)

ALLAH subahanahu wa ta’ala berfirman:

(Artinya: Apa yang diberikan Rasul kepadamu, ambillah. Dan apa yang dilarangnya atasmu, tinggalkanlah) (Al Hasyr:7)

Dan Kekasih ALLAH ini shalallahu ‘alaihi wasallam pernah berucap:

ما نهيتكم عنه فاجتنبوه. وما أمرتكم به فافعلوا منه ما استطعتم.

فإنما أهلك الذين من قبلكم كثرة مسائلهم، واختلافهم على أنبيائهم

(Apa yang aku larang kalian atasnya, jauhilah. Dan apa yang aku perintahkan kalian dengannya, kerjakan sekuat kemampuanmu. Karena sesungguhnya, telah binasa orang-orang sebelum kalian disebabkan banyaknya masalah dan penyelisihan mereka terhadap nabi-nabi mereka) (Hadits Abu Hurairah, riwayat Al Bukhari – Muslim)

Ya, tentu saja wajib bagi kita menjauhi apa yang ia larang dan mencela apa yang ia cela. Karena hancur binasanya umat-umat terdahulu adalah disebabkan seringnya mereka menyelisihi nabi-nabi mereka.

Ya, melanggar apa yang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam larang, atau menyukai apa yang ia cela saja sudah jelas akan dosanya. Lantas bagaimana pula jika kita menolak apa yang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam perintahkan -sedangkan kita mampu untuk itu- atau kita membenci apa yang ia senangi dan ia amalkan?

Tentu saja berbeda antara melanggar yang Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam larang atau menyukai yang dicela dan dibencinya dengan menolak yang ia perintahkan atau membenci yang disukai dan diamalkannya.

Yang pertama (melanggar larangan atau menyukai hal tercela), sangat mungkin terjadi pada seseorang, dan kebanyakannya disebabkan dorongan syahwat. Umumnya mereka -yang terjatuh ke dalam berbagai bentuk ma’shiyat yang disebabkan oleh syahwat ini- menyadari kesalahannya atau merasa berdosa atas perbuatannya.

Sedang yang kedua (menolak perintah atau membenci hal terpuji), tidaklah terjadi kecuali pada seseorang yang telah mengidap penyakit sombong, yakni menolak kebenaran dan melecehkan orang lain.

Dan, Kekasih ALLAH ini shalallahu ‘alaihi wasallam pernah berucap:

الكبر بطرالحق و غمط الناس

(Sombong itu; menolak kebenaran dan menghina orang lain.) (Hadits Abdulah ibn Mas’ud, riwayat Muslim)

Ya, betapa tidak dikatakan sombong -mereka yang menolak perintah dan membenci hal yang terpuji-. Bukankah pada dasarnya seluruh perintah ALLAH itu mampu dikerjakan oleh hamba-NYA, karena tidaklah ALLAH membebani hamba-NYA lebih dari batas kemampuannya? Bukankah segala perintah itu pasti mengandung kebaikan, karena tidaklah kita mengenal baik dan buruk kecuali setelah ada perintah dan larangan? Bukankah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam itu adalah pribadi yang diutus ALLAH subahanahu wa ta’ala untuk diteladani?

Ya, dari mana asal-muasalnya penolakan terhadap perintah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam kalau bukan karena mengingkari kebenaran yang dibawanya. Dari mana asal-muasal membenci amalan-(baca: Sunnah)-nya kalau bukan dari pelecehan atau penghinaan (- sekecil atau sehalus apapun- ) terhadap pribadinya shalallahu ‘alaihi wasallam.

Ya, apa sulitnya bagi kita untuk menjalankan perintahnya atau menyukai sunnahnya? Apa yang menghalangi kita untuk menyintai apa yang ia cintai?

“…dan Muhammad adalah Utusan ALLAH.”

itu artinya “ان لا يعبد الله إلا بما شرع “ (tidaklah ALLAH diibadahi kecuali mengikuti apa yang ia (Rasulullah) syari’atkan)

ALLAH subahanahu wa ta’ala berfirman:

(Artinya: Katakan (-Ya, Muhammad-),”Jika kalian mencintai ALLAH, teladanilah aku. Niscaya ALLAH pun akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.”) (Ali Imran:31)

Dan kekasih ALLAH ini subahanahu wa ta’ala pernah berucap:

من احدث في أمرنا هاذ ما ليس منه فهورد

(Barangsiapa yang mengada-ada di dalam urusan agama ini dengan sesuatu yang tidak berasal darinya, maka tertolak.) (Hadits A’isyah, riwayat Al Bukhari – Muslim)

Ya, tentu saja seorang muslim tak mungkin beribadah kepada ALLAH kecuali dengan cara yang dicontohkan dan diajarkan oleh Rasul-NYA. Untuk apa ALLAH subahanahu wa ta’ala mengutusnya kalau bukan untuk dicontoh.

ALLAH subahanahu w at’ala berfirman:

(Artinya: Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu teladan bagi kalian…) (Al Ahzab:21)

Maka, bagaimana mungkin kita mengaku sebagai pengikutnya, pembelanya, dan pecintanya, sementara kita menuduhnya sebagai pendusta, penyembunyi ilmu, atau penghianat Ar-Risalah? Ya, manakala kita mengada-ada di dalam urusan agama, dan menganggap perbuatan mengada-ada itu sebagai suatu kebaikan, maka sesungguhnya kita telah menuduh Kekasih ALLAH ini subahanahu wa ta’ala pendusta, atau penyembunyi ilmu, atau pengkhianat Ar-Risalah.

Mungkinkah Kekasih ALLAH ini subahanahu wa ta’ala tidak mengetahui Kebaikan, atau lupa menyampaikannya, atau sengaja menyembunyikannya? Seandainya kita melakukan amalan -yang secara tak langsung menuduh Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam mengkhianati Ar-Risalah- , maka artinya juga kita telah menuduh ada tanda-tanda kemunafikan pada Beliau. Alangkah kejamnya -wahai hamba-ALLAH yang tak henti-hentinya berucap “wa anna Muhammadarrasulullah.”- seandainya itu yang kita perbuat.

“…dan Muhammad adalah Utusan ALLAH.”

(http://www.mimbarislami.or.id/?module=buletin&opt=default&action=detail&blid=36)

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: