Mewaspadai Bahaya Bid’ah

Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al Atsary

Bertolak dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya), “Setiap kebid’ahan adalah sesat dan setiap kesesatan di neraka.” (HR Muslim 6/153, Al Baihaqi dalam Asma wassifat: 137, Nasaa`i 3/188-189, dengan sanad yang shohih), maka setiap perkara yang baru yang diada-adakan dalam agama wajib diketahui guna untuk menjauhinya, selaras dengan ungkapan sebuah syair:

“Aku mengenali kejelekan bukan untuk kejelekan, namun agar berjaga-jaga darinya
siapa yang tak kenal kebaikan dari kejelekan, ia akan terjerumus ke dalamnya.”

Lebih jauhnya, sahabat Hudzaifah ibnul Yaman berkata, “Orang-orang bertanya kepada Rosulullah perihal kebaikan, sedang aku bertanya kepadanya tentang kejelekan, khawatir bila sampai menimpaku.” (HR Bukhori 6/610-616, 13/35, Muslim 12/236).

Dengan demikian tidak cukup bagi seseorang dalam beribadah hanya mengetahui sunnah saja, akan tetapi juga harus mengenali lawannya yakni bid’ah, seperti dalam hal keimanan tidak cukup mengerti tauhid saja tanpa mengetahui syirik. Allah subhanahu wa ta’ala telah mengisyaratkan hal ini dalam firmanNya (yang artinya), “Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thoghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” (Al Baqoroh: 256).

Begitu pula dengan Rosulullah, beliau menegaskan (yang artinya), “Siapa yang mengatakan Laa ilaha illallah lalu mengkufuri apa yang diibadahi selain Allah, maka diharamkan harta dan darahnya, sedang hisabnya atas Allah.” (HR Muslim 1/212).

Allah dan RosulNya tidak hanya mencukupkan tauhid tapi ditambahkan padanya mengkufuri selainNya (yang diibadahi). Jelaslah ini semua menuntut untuk mengetahui syirik, kufur, dan bid’ah, bila tidak, tentulah akan terjerumus ke dalamnya tanpa disadari. Allah berfirman (yang artinya), “Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (QS Yusuf: 106).

Tak dapat disangkal lagi bila fenomena yang ada menunjukkan tak sedikit dari kaum muslimin yang begitu hobi melakukan praktek bid’ah dan khurafat, yang lebih mengenaskan bid’ah dan khurafat itu dikemas sedemikian rupa agar tampak seolah-olah suatu ibadah yang disyariatkan, lebih tampil menarik dan mampu memikat perhatian banyak orang. Lebih dari itu ternyata bid’ah dan khurafat kini gemar dikampanyekan orang-orang yang bergamis dan berjenggot, tetapi mana gamis dan mana jenggot?! -yang jelas keduanya tengah didzalimi-. Ironinya model-model yang seperti inilah yang dijadikan tokoh-tokoh penting bangsa ini, naik daun dan melambung namanya di hadapan rakyat yang awam akan ilmu agamanya. Wallahul musta’an.

Sementara apa yang ada di dalam Kitabullah berisikan perintah untuk ittiba’ (mengikuti tuntunan Rosulullah). Allah berfirman (yang artinya), “Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imran: 31).

Allah juga berfirman (yang artinya), “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS Al An’am: 153).

Diriwayatkan dari Abul Hajaj bin Jabr al Maky -seorang imam ahli tafsir dari kalangan tabi’in- tentang firman Allah, “Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)”, katanya, “Yakni kebid’ahan dan syubhat-syubhat.” (HR Ad Darimy 1/68, Al Baihaqi dalam Al Madkhal: 200).

Berkata Al Izz ibnu Abdus Salam, “Beruntunglah bagi siapa yang memimpin sesuatu dari urusan kaum muslimin, lalu merespon dan memberikan andil dalam mematikan bid’ah dan menghidupkan sunnah.” (Musajalah ilmiyyah: 10 dari Al Bid’ah wa Atsaruhas Sayyi` fil Ummah: 119).

Imam Al Marudzi berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah -imam Ahmad-, “Apa pendapatmu tentang seseorang yang menyibukkan diri dengan shoum dan sholat, tapi diam dari membicarakan ahlul bid’ah?” Muka beliau masam seraya berkata, “Jika ia shoum dan sholat dan memisahkan diri dari manusia, bukankah itu hanya untuk kebaikan dirinya saja?” Aku menjawab, “Benar.” Beliau berkata lagi, “Namun bila ia berbicara (tentang ahlul bid’ah) tentu hal itu untuk kebaikan dirinya dan selainnya, maka berbicara lebih afdhal.” (Thobaqotul Hanabilah: 2/216 dari Al Bid’ah wa Atsaruhas Sayyi`: 120).

Imam Qotadah berkata, “Seseorang bila melakukan kebid’ahan, sepatutnya untuk disebutkan dan diperingatkan.” (Syarh Ushulul I’tiqod no: 250).

Mengapa hal ini justru luput dari sorotan organisasi-organisasi dan jama’ah-jama’ah yang berlabelkan Islam? Mengapa luput dari sekumpulan majlis yang katanya berbasis ulama?! Sangat disayangkan, perkara yang besar ini menjadi remeh di mata umat Islam, sampai-sampai ada yang menganggap bid’ah adalah masalah khilafiyah biasa yang setiap orang harus menumbuhkan sikap tenggang rasa di dalamnya, seolah-olah bid’ah adalah sesuatu yang memang ada asalnya dalam syariat Islam. Lelucon macam apa ini!!!

Berikut ini pemaparan tentang bahayanya bid’ah agar diketahui bahwa orang yang terjerumus ke dalamnya tengah melakukan pelanggaran-pelanggaran besar:

Pertama: Kebid’ahan adalah kesesatan, orang yang melakukannya berarti melakukan kesesatan menurut nash Kitab dan Sunnah, yang demikian itu karena apa yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah haq, sedang Allah telah berfirman (yang artinya), “Maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS Yunus: 32). Rosulullah menyatakan (yang artinya), “Setiap kebid’ahan adalah sesat.”

Kedua: Kebid’ahan adalah sikap menyimpang dan keluar dari mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dimana Allah berfirman (yang artinya), “Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imran: 31). Maka siapa yang melakukan kebid’ahan, beribadah kepada Allah dengannya, sungguh dia telah keluar dari mengikuti Nabi yang berarti keluar dari apa yang disyariatkan Allah.

Ketiga: Kebid’ahan melenyapkan pembuktian syahadat “Muhammadar Rosulullah” karena yang menjadi konsekuensi dari syahadat tersebut adalah berkomitmen penuh terhadap syariatnya, tidak menambahi atau mengurangi. Adapun kebid’ahan menggugurkan komitmen yang agung ini.

Keempat: Kebid’ahan mengandung celaan terhadap Islam, sebab orang yang melakukan suatu kebid’ahan secara tidak langsung dia menganggap Islam belum sempurna, sementara Allah telah berfirman (yang artinya), “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS Al Maidah: 3).

Kelima: Kebid’ahan mengandung celaan terhadap diri Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena bid’ah yang dianggap ibadah secara tidak langsung pelakunya menuduh bahwa Rosul tidak mengetahuinya atau Rosul mengetahuinya tapi menyembunyikannya, keduanya perkara yang sangat berbahaya.

Keenam: Kebid’ahan penyebab perpecahan umat Islam, karena jika pintu bid’ah dibuka lebar-lebar di hadapan umat Islam, tentu masing-masing akan membuat bid’ah, akibatnya apa yang terjadi di tengah-tengah umat sekarang ini dimana tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada padanya. Allah berfirman (yang artinya), “Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS Ar Rum: 32). Tiap-tiap golongan mengklaim bahwa “kebenaran ada pada kami dan kesesatan ada pada selain kami”.

Allah telah berfirman kepada NabiNya (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka terpecah menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat. Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya, dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS Al An’am: 159-160). Jadi jika umat Islam melakukan kebid’ahan-kebid’ahan maka merekapun akan terpecah-belah.

Ketujuh: Kebid’ahan bila merebak di tengah-tengah umat, maka akan melenyapkan sunnah, umat akan menjadi asing terhadap sunnah karenanya, meski didapati orang-orang yang melakukan bid’ah mengira tujuannya baik dan amalannya baik namun tepatlah atas mereka firman Allah (yang artinya), “Katakanlah: Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS Al Kahfi: 103-104).

Sebab-sebab yang menyebabkan terjadinya kebid’ahan sangatlah banyak yang semuanya kembali pada tiga sebab yang utama:

Pertama: Kebodohan akan sumber-sumber hukum dan wasilah untuk memahaminya, sumber hukum syar’i adalah Kitabullah dan Sunnah Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang diikutsertakan ke dalam keduanya dari perkara ijma’ dan qiyas.

Kedua: Mengikuti hawa nafsu dalam mengambil hukum, sehingga hawa nafsu dijadikan landasan utama sedangkan dalil dipaksa untuk mengikuti kemauan.

Ketiga: Berbaik sangka terhadap akal dalam hal penetapan syariat, padahal Allah menjadikan bagi akal batasan-batasan dalam mengetahui sesuatu dan tidak menjadikannya sebagai jalan untuk mengetahui segala sesuatu.

Para pembaca, dakwah kepada tauhid dan sunnah adalah memerintah kepada yang ma’ruf, dan peringatan dari kesyirikan dan kebid’ahan adalah mencegah dari yang mungkar. Dengan jalan inilah umat Muhammad akan menyandang predikat “sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia”. Allah berfirman (yang artinya), “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran: 110).

Kepada para da’i, wajib untuk memperingatkan kaum muslimin dari kebid’ahan dan kesyirikan serta menyeru mereka kepada tauhid dan sunnah, di atas pondasi inilah dakwah dibangun, seperti firman Allah (yang artinya), “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran: 104). Wal ilmu indallah.

Sumber bacaan:
– Al Bid’ah wa Atsaruhas Sayyi` fil Ummah.
– Syarh Riyadhush Sholihin.

Sumber: Buletin Al Wala’ Wal Bara’
Edisi ke-29 Tahun ke-2 / 11 Juni 2004 M / 23 Rabi’uts Tsani 1425 H

(http://ghuroba.blogsome.com/2007/07/08/mewaspadai-bahaya-bidah/)

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: