Penjelasan Makna Kalimat ‎ Laa ilaaha illa’llah

Penulis : Al Ustadz Asasuddin

Saudaraku seiman -yang semoga ALLAH memberkahi kita semua-.

Untuk kesekian kalinya kami menjelaskan makna kalimat syahadat laa-ilaaha-illallah. Dan tentunya kita semua tidak merasa bosan untuk mendengar, membaca, dan mengajak kaum muslimin untuk memahaminya serta melakukan apa yang menjadi keharusan di balik makna yang dikandung oleh kalimat tauhid tersebut.

Amal ibadah kita harus dibangun di atasnya. Tanpa dengannya pastilah amalan kita tidak diterima di sisi Yang Maha Kuasa. Ia merupakan perkara yang wajib diketahui lebih dahulu oleh setiap muslim. Karena itulah ajakan pertama kali para Nabi dan Rasul, yakni mengajak umatnya untuk mempersembahkan amal ibadah hanya kepada NYA. Tiada sekutu bagi NYA.

Dengan kalimat itulah orang kafir menjadi muslim dan akan mendapatkan hak-haknya sebagaimana muslim yang lainnya. Darah dan hartanya menjadi terjaga, musuh menjadi saudara dan kekasih juga karenanya. Dan kalimat tersebut akan memberikan manfaat bagi seseorang bila ia melakukan keharusan-keharusan dari kalimat tersebut.

Sayangnya, tidak banyak kaum muslimin yang mengerti kalimat yang agung ini. Ia menganggap hal itu hanya sebatas kalimat yang dilantunkan oleh lisan tanpa perlu dipahami maknanya serta diamalkan konsekuensinya. Sungguh sangat jauh perbedaannya dengan orang-orang jahiliah (- di zaman Nabi j- ed.). Ternyata mereka lebih mengerti makna dan konsekuensinya, sehingga dengan sebab itu mereka enggan untuk mengucapkan kalimat tersebut -sebagaimana yang dijelaskan di dalam Al qur’an:

(Artinya: Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illa’llah (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan ALLAH), mereka menyombongkan diri.dan berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?” ) (Ash-Shaaffat: 35-36)

Demikian pula di dalam surat Shaad, ayat 4-5:

(Artinya: Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka. Dan orang-orang kafir berkata: “Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta..Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.”

Dan sungguh sangat memprihatinkan kondisi kaum muslimin ini. Kebanyakan mereka senang untuk melantunkan dzikir -yang paling utama- ini, namun tidak paham maknanya. Padahal siapa yang mengucapkanya, mengerti maknanya, serta melakukan apa yang menjadi keharusannya. maka ia pasti masuk surga -sebesar apapun dosa yang ia lakukan selama ia mati tidak membawa dosa syirik-.

Saudara seiman. Kami akan bawakan sebahagian ayat-ayat Al Qur’an yang memperjelas makna sesungguhnya dari kalimat syahadat laa-ilaaha-illallah..

· Pertama :

(Artinya: Katakanlah, “Panggillah mereka yang kamu anggap (-tuhan-) selain ALLAH itu. Maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya dari padamu dan tidak pula memindahkannya.” Orang-orang -yang mereka seru- itu sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka -siapa di antara mereka yang lebih dekat (- kepada ALLAH-)-, mengharapkan rahmat-NYA, dan takut akan azab-NYA. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (-harus-) ditakuti.) (Al Isra': 56-57)

Berkata Al -Imam Ibnu Katsir -tentang ayat ini-:” Katakan -hai Muhammad- kepada orang-orang musyrik yang menyembah selain ALLAH: Panggillah mereka yang kamu anggap (-tuhan-) selain ALLAH (-berhala ataupun tandingan yang lainnya-). Padahal sesungguhnya mereka tidaklah mampu untuk menyingkapkan mara bahaya serta memidahkanya kepada selain kamu. Dengan demikian maknanya adalah, bahwa yang mampu berbuat itu semua adalah ALLAH semata, tiada sekutu bagi NYA.”

Ayat ini dengan jelas dan gamblang membantah perilaku orang orang yang menggantungkan hatinya kepada orang-orang sholih dan para nabi, berdo’a, serta meminta hajat kepada mereka. Karena ayat di atas turun berkenaan dengan fenomena itu, sebagian besar ahli tafsir berpendapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang menyembah Isa, ibunya, ‘Uzair, dan malaikat. Sementara ALLAH melarang keras perbuatan tersebut serta memberikan ancaman yang pedih.

Hal ini menujukkan bahwa berdo’a serta meminta manfaat dan tersingkapnya mara bahaya kepada mereka (-yang disebutkan tadi-) adalah perbuatan syirik, menafikan kemurnian tauhid sekaligus membatalkan syahadat yang telah diucapkan. Karena tauhid menuntut untuk tidak berdo’a (beribadah) kecuali hanya kepada ALLAH. Dan Kalimatul Ikhlas menafikan syirik, sedangkan berdo’a kepada selain ALLAH, meminta hajat, serta berharap kepadanya sama saja dengan menjadikan -selain ALLAH- sebagai ilaah (sesembahan) yang diibadahi.

Ayat di atas juga mengkabarkan kepada kita, bahwa siapa saja yang diibadahi selain ALLAH itu tidak akan mampu menyingkap mara bahaya ataupun memindahkanya kepada yang lainnya -dari orang yang berdo’a(meminta) kepadanya-, meskipun yang diseru (dimintai) itu adalah nabi atau malaikat sekalipun.

Dengan demikian berdo’a/meminta kepada siapa saja selain ALLAH adalah perbuatan batil dan syirik ,dan mereka (-yang diseru/dimintai itu-) pun akan berlepas diri dari perbuatan kesyirikan tersebut. ALLAH subahanahu wa ta’ala berfirman:

(Artinya: Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu. Dan kalaupun mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu. Dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.) (Fathir:14)

(Artinya: Dan apabila manusia dikumpulkan (-pada hari kiamat-), niscaya sembahan- sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka.) (Al Ahqaaf:6)

Justru orang-orang yang mereka seru itu (-mereka-) sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka -siapa di antara mereka yang lebih dekat (-kepada ALLAH-)-, mengharapkan rahmat-NYA, serta takut akan azab-NYA. .Qatadah mengatakan:”Mereka mencari jalan untuk bisa dekat kepada ALLAH dengan melakukan ketaatan kepada NYA serta melakukan apa yang diridloi-NYA.”

· Ke-dua:

(Artinya: Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain ALLAH, dan -(juga mereka mempertuhankan-) Al Masih putera Maryam. Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci ALLAH dari apa yang mereka persekutukan.) ( At-Taubah:31)

As-Suddiy berkata: “Mereka mengambil pendapat pendapat dari ulama’ mereka dan ahli ibadah mereka dengan mengabaikan kitab-ALLAH. Pada hal ALLAH telah memerintahkan mereka untuk beribadah hanya kepada NYA.”

Mereka mentaati setiap apa yang dikatakan oleh pemuka agamanya dan mengabaikan kitab-ALLAH. Maka dengan cara itu mereka telah menyembah pemuka agamanya, yakni dengan menjadikanya sebagai pencetus syariat -menghalalkan apa yang ALLAH haramkan dan mengharamkan apa yang ALLAH halalkan-.

Perbuatan inilah yang dikenal dengan syirkuth-tho’ah, yaitu mentaati manusia di dalam perkara halal dan haram. Karena meletakkan syariat di dalam agama ini adalah hak istimewa ALLAH dan termasuk di dalam rububiyah-NYA. Maka barang siapa yang mentaati di dalam perkara yang demikian ini , artinya ia telah menjadikan orang-orang yang ditaatinya itu sebagai rabb selain ALLAH

ALLAH subahanahu wa ta’ala berfirman;

(Artinya: Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali- kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci ALLAH dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.) (Al Qashash :68)

Dengan demikian jelas bagi kita, bahwa kalimat tauhid menafikan perbuatan di atas. Maka siapa saja yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat tidak boleh menjadikan siapa saja selain ALLAH sebagai rabb , antara lain berupa mentaati apa saja yang dihalalkan dan diharamkan oleh manusia.

· Ke-tiga:

(Artinya: Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah, kecuali kepada Yang telah menjadikanku. Karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku”.Dan (-Ibrahim-) menjadikan (-kalimat tauhid itu-) kalimat yang kekal pada keturunannya agar mereka kembali (-kepada kalimat tauhid itu-) ) ( Az-Zukhruf:26-28)

Nabi Ibrahim ‘alaihi sallam -sebagai kekasih ALLAH- menyatakan berlepas diri dari bapak dan kaumnya, disebabkan mereka beribadah kepada berhala. Dan kalimat yang terucap oleh Ibrahim adalah pernyataan, bahwa ibadah hanya untuk ALLAH, tiada sekutu bagi NYA. Dan pengingkaran peribadatan kepada selain NYA adalah bentuk perwujudan kalimat laa ilaaha illa’llah. Dan dijadikan oleh Ibrahim sebagai warisan untuk keturunannya.

Berkata Ikrimah, Mujahid , Adl-dlahak, Qatadah, dan As-Suddiy -tentang ayat-:

وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

(Artinya: Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya, supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu)

“Yang dimaksud dengat kalimat di sini adalah kalimat laa ilaaha illa’llah, yang senantiasa ada pada keturunan orang-orang yang mengucapkanya.”

Maka dengan demikian, semakin jelaslah makna laa ilaaha illa’llah, di mana seseorang dituntut mengikhlaskan ibadah hanya untuk ALLAH subahanahu wa ta’ala, serta berlepas diri dari peribadatan kepada selain-NYA.Semoga dengan sekilas penjelasan ini kaum muslimin mendapatkan manfaat yang sebesar besarnya serta selamat dari terjatuh ke dalam jurang kesyirikan. Kami mengajak kaum muslimin untuk tidak melupakan majlis taklim, agar amalan kita tidak menyimpang dari tuntunan ALLAH dan rasul-NYA. Dan tidaklah musibah itu terjadi melainkan karena dosa-dosa hamba itu sendiri. ALLAH tidak berbuat zhalim kepada hamba-NYA. tetapi hamba itu sendirilah yang berbuat zhalim. Kami memohon kepada ALLAH agar negeri ini suci dari perbuatan syirik, amin.

(http://www.mimbarislami.or.id/?module=buletin&opt=default&action=detail&blid=34)

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: